Home
Labyrinth of Mind
Recent Entries 
14th-Dec-2005 09:20 am - Pet kedua yg gw adopt
hiiro

my pet!


... setelah yg pertama gw abaikan ^-^ abis lupa naronya di mana :D
13th-Dec-2005 09:29 am - OpenId
hiiro
Ternyata livejournal memilih lebih baik yang posting komen anonymous daripada ada nama tapi ga ter-authenticate :( , dengan account livejournal atau dengan openid (http://openid.net/)

But guys, please help me identify who you are by at least writing your name at your comment -_- thx 
12th-Dec-2005 01:20 pm - Dunia Binatang
hiiro

Ini salah satu hal yang bikin gw penasaran. Ada banyak binatang di sekitar kita. Walau bukan kota, tetep aja jumlahnya ga bisa dibilang sedikit. Yang bikin gw heran, lifespan dari binatang itu kan pendek2, tapi kenapa jarang banget keliatan ada bangkainya. Paling sering bangkai tikus, itu juga yang matinya tidak wajar, kalau ga dipukul ya diracun atau dilindes mobil lewat. Kalo ada bangkai kucing, anjing, burung atau yang lainnya, kemungkinan besar matinya juga karena manusia, ga mati normal karena udah tua :) .

Nah, bangkai2 korban pembunuhan itu pasti tergeletak sembarangan dan bau banget. Kalo gitu, binatang2 yang matinya alami itu kok jarang kelihatan bangkainya? Baunya pun ga kecium -_-? Padahal jumlahnya pasti banyak banget. Ga mungkin kan mereka menguap gitu aja? Atau yg korban 'pembunuhan' itu bangkainya terlihat mata dan baunya tercium itu sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak sembarangan membunuh binatang?

Atau.... mereka punya dunia rahasia yang tidak terlihat? Bukan dunia gaib atau dimensi lain yg gw maksud. Maksud gw tempat yg tersembunyi dari manusia. Di novel "Life of Pi" nya Martel disebutin kalo Tokyo diangkat dan dibalik, maka akan jatuh binatang2 macam serigala, jerapah, singa, dll. Mereka ada tapi tak terdeteksi manusia. Ada cerita (kata novelnya sih nyata) di sebuah kota di Eropa pernah ada beruang yang lepas. tapi ga  ketemu dan akhirnya disimpulkan udah pergi dari kota itu. Setelah bertahun2 ternyata beruang itu ketemu di kota itu.

Hmmm.....

12th-Dec-2005 09:33 am - Doraemon
hiiro
Sabtu kemaren ke gramedia BP, liat2 bagian komik siapa tahu ada masih ada komang. Ternyata sebagian besar isi raknya komik2 baru, komang sepertinya sudah hilang dari peredaran di cabang gramedia itu. Satu-satunya judul komik lama yang masih bertahan dari dulu hingga kini adalah .... yap Doraemon! Lengkap lagi dari nomor 1.
Kungfu Boy (kecuali yg seri baru), seri Mari-chan dan kawan2 yg termasuk sesepuh komik jepang di indonesia seperti Doraemon ga ada yg bertahan. Kayanya selama masih ada makhluk yg namanya 'anak-anak', Doraemon bakal tetap bertahan, walau sudah ada Dora lain yg bisa ngeluarin macem2 barang dari ranselnya :D

Sidestory: 3 anak umur SD/SMP naik ke angkot yg lg gw naikin, sepertinya habis latihan basket, soalnya pake baju basket lengkap, pokoknya gaya abis, salah satu megang plastik berisi DVD, sebelum turun DVD nya dikeluarin, dan ternyata judulnya ... Doraemon dan Palu Ajaib :)) yah... namanya juga anak-anak.
9th-Dec-2005 03:05 pm - Cuaca akhir-akhir ini
hiiro

Ga inget kapan terakhir kali musim kemarau tiba di Jakarta. Sehari dua hari memang panas, tapi akhirnya ya hujan deres juga. Jadi seperti ga ada musim lagi. Makanya kadang suka heran kalo denger atau baca berita ada gagal panen karena kekeringan di daerah, wong di sini hujan tetap setia turun.

Hujan tiap hari buat gw sih ga masalah, tapi kalo lagi ga ada orang di rumah, mau ninggalin jemuran was-was juga kalo siang2 hujan turun tanpa bilang-bilang dulu.

Aaah, sepertinya hujan sore ini juga akan turun........

9th-Dec-2005 11:37 am - Berhenti Sejenak
hiiro

Berhenti Sejenak

Sahabat mari kita berhenti sejenak, mengamati kembali bekas-bekas langkah
kita dalam kehidupan ini. Melihat dengan cermat apa-apa yang telah kita
lakukan selama ini. Perhatikan saudaraku, sudahkah langkah-langkah kita
berangkat dari tempat yang baik? Sudahkah dalam perjalanannya dia berbelok
di tempat-tempat yang semestinya? Dan yang paling penting, sudahkah
langkah-langkah kita menuju kepada-Nya?

Andai kita mau jujur, mungkin kita akan mampu melihat bahwa
langkah-langkah kita ternyata sering berselisih dengan kehendak-Nya.
Tengoklah kehidupan kita, sementara demikian banyak saudara kita mengais
sesuap nasi, masih sering kita biarkan butiran-butiran nasi tersisa di
piring kita dan terbuang percuma. Ketika banyak saudara kita berhutang
kesana kemari, masih sering kita membeli barang-barang mewah yang
sesungguhnya tidak terlalu berguna. Ketika Allah memerintahkan kita untuk
beribadah kepada-Nya, masih sering kita lalai dan menyibukkan diri kita
dengan berbagai fasilitas yang sesungguhnya hanya titipan-Nya.

Belum lagi jikalau kita mengingat bahwa ternyata kehidupan kita selama ini
belum berorientasi kepada-Nya. Waktu yang telah kita lewatkan ternyata
lebih banyak untuk kepentingn dunia kita. Mari tanyakan kepada diri kita,
Berapa banyak waktu telah kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya? Berapa
banyak waktu telah kita habiskan untuk membaca firman-Nya? Berapa banyak
ilmu yang telah kita pelajari untuk meningkatkan iman kepada-Nya?

Saudaraku apakah hati-hati kita telah terlalu jauh dari-Nya? sehingga
sulit bagi kita untuk mengingat bahwa semua yang terjadi hanyalah atas
kehandak-Nya? sehingga sulit bagi kita menyadari bahwa semua milik kita
hanya dititipkan-Nya sementara? Apakah kita telah menjadi manusia sombong
yang selalu mengalamatkan semua kesuksesan dan keberhasilan hidup kita
kepada diri kita sendiri? Jikalau rasa itu masih ada, mari tanyakan kepada
diri kita, tak takutkah kita jika Allah mengadzab kita atas kesombongan
itu? tak takutkah kita jika Allah menarik semua titipan-Nya karena kita
telah berkhianat kepada-Nya? Lupakah kita bahwa Allah telah berfirman akan
meng adzab orang-orang yang kufur nikmat?

Saudaraku, jikalau langkah-langkah kita ternyata telah jauh dari ke
ridhoan-Nya, telah menyimpang dari kehendak-Nya, maka duduklah sejenak,
mari kita berhenti dan bersiap berbelok segera sebelum semua terlambat.
Allah masih demikian sayang kepada kita dan mengizinkan kita bersua dengan
Ramadhan yang mulia. Jikalau terselip secarik keinginan untuk memohon
ampun kepadanya, bergegaslah !!! Semoga keberkahan ramadhan dan
kesungguhan hati kita, berbuah pada keridhoan Allah Ta'ala. Meski ramadhan
mulai akan segera meniggalkan kita, mari jangan kita biarkan ia berlalu
sia-sia.

Sunguh Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri.
Sunguh Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri.


Bumi Allah, dikelilingi kursi-kursi belum berpenghuni.
-EAW-
(Erwin Arief Wibowo)

9th-Dec-2005 11:08 am - Alasan ...
adityo ananta
sekalian promosi dikit ...
nih blog punya situs , walau tampilan biasa aja, tapi punya pc client, jd kl mosting ga perlu buka web-nya
belum nemu situs lain yg nyediain kaya gini yg gratis, jadi ya pake ini aja dulu sampe nemu yg lebih bagusan ..

~setelah membuat dan mencoba satuan (kalo jumlahnya 11-20 kan belasan, jadi kl jumlahnya 1-10 berarti satuan :D) account blog dimana-mana (ampe dah ga inget lagi alamat blognya ... )
9th-Dec-2005 10:51 am - [Why oh .. why?] Kelakuan orang di kendaraan umum
hiiro
Kasus sehari hari, angkot dalam keadaan setengah penuh. Calon penumpang memberhentikan kendaraan. Supir pun menepikan kendaraannya. Sang calon penumpang pun naik, kemudian mencari tempat untuk duduk. Tengok kanan-kiri tidak ada tempat yang cukup lowong untuk langsung 'menempatkan' pantat. Penumpang yang lain menatap dengan pandangan 'bodoh' seakan tidak mengerti kenapa penumpang yang baru naik itu tidak duduk juga. Dan ketika penumpang baru itu meminta salah seorang penumpang untuk bergeser sedikit untuk memberikan tempat, yang bersangkutan pun menatap tidak percaya dan akhirnya dengan berat hati bergeser sedikit.

??? Nda ngerti daku jalan pikiran orang seperti itu :(
9th-Dec-2005 09:41 am - Looking for the perfect match..
anta101

Ternyata mencari situs blog yg memuaskan hati sulit juga ...
Well, untuk sementara pake yang ini dulu deh ....

8th-Dec-2005 06:03 pm - Nice article
hiiro

Artikel berikut memang membicarakan tentang da'wah, tapi hikmah dari artikel ini juga berlaku untuk hal-hal lain dalam keseharian kita.
Coba baca saja, memang agak panjang sih. Enjoy!
 ==================================


Mengubah Cara Kita Memikirkan Da'wah

“Jembatan apa yang dibutuhkan, diantara cita-cita yang menjulang dan kemampuan yang pas-pasan?”
oleh M Anis Matta

Ada perasaan sia-sia yang menjalar perlahan di hati seorang dosen. Malam itu semua usahanya meyakinkan para mahasiswanya tentang keunggulan ekonomi Islam gugur berkeping-keping, hanya karena sebuah pertanyaan sederhana seorang mahasiswa.

Rasanya semua energi intelektualnya sudah dikerahkan. Rasanya semua energi intelektualnya sudah dikerahkan. Enam belas kali pertemuan dalam satu semester. Menurut dosen yang juga aktivis itu, jumlah tersebut cukup guna membangun keyakinan kokoh di benak para mahasiswa tentang keunggulan sistem ekonomi Islam di atas semua sistem lainnya.

Ia meyakinkan mereka dengan membuat perbandingan ideologi dan sistem yang sangat rasional-objektif antara Islam dengan kapitalis dan komunis; perbandingan bisnis antara konsep bank tanpa riba dan bank konvensional; analisa komprehensif tentang kegagalan pembangunan di dunia Islam; syarat-syarat yang diperlukan demi meningkatkan  kesejahteraan ummat dan memajukan perekonomian mereka. Begitu seterusnya. Mahasiswa-mahasiswanya antusias. Sampai pertanyaan sederhana itu muncul. "Apakah ada sebuah negara yang telah menerapkan sistem ekonomi Islam, dan mencapai tingkat kemakmuran yang dijanjikan sistem itu seperti yang bapak ceritakan, sehingga kita dapat menjadikannya model pengembangan ekonomi bangsa kita ke depan?" tanya mahasiswa itu enteng, dan sedikit lugu.

Sederhana memang. Tapi itulah "lubang bes ar" yang menganga dalam cara kita mengkomunikasikan Islam kepada masyarakat. Sementara kita menjelaskan keunggulan ideologi dan sistem yang abstrak, mereka mengharapkan contoh aplikasi yang sukses dalam kehidupan nyata. Sementara kita membanggakan keunggulan di dunia maya spiritual, tapi mereka hanya terpesona kepada yang unggul di dunia empiris. Sementara kita menjelaskan kehebatan Islam di masa lalu, mereka menyaksikan keterpurukan kita saat ini. Sementara kita menjelaskan kebenaran-kebenaran Islam, mereka justeru menantikan kekuatan-kekuatan kaum Muslimin. Sementara kita menjelaskan teori, mereka memahami teori lebih baik melalui contoh kasus.

Cermin Realitas

Kebanyakan orang belajar secara visual, tapi kita berkomunikasi secara abstrak. Ini hanya contoh kecil, sangat sederhana, tapi memadai untuk menjelaskan me ngapa gerakan da'wah belum mampu menembus pusaran logika massa, apalagi melakukan penetrasi pada jaringan-jaringan pemikiran, sosial dan politik untuk kemudian mengubah, memobilisasi dan mengendalikan mereka.

Di tingkat opini publik, Islam dan gerakan da'wah dengan mudah "diisolasi" tanpa pembelaan spontanitas dari masyarakat. Masyarakat juga belum begitu percaya dengan kemampuan gerakan da'wah beserta para pemimpinnya untuk mengelola negara. Secara
keseluruhannya, Islam dan gerakan da'wah belum memegang peran-peran kunci dalam pembentukan kesadaran publik.
Padahal itu semua merupakan kondisi-kondisi pendahuluan yang mutlak ada dalam perjalanan kita menuju kekuasaan. Rendahnya tingkat penerimaan publik dan kapasitas serta citra kita sebenarnya merupakan realitas-realitas yang berakar pada cara kita berpikir. Tidak ada realitas kita yang tidak berakar pada pikiran kita. Pikiran adalah cermin besar yang memantulkan seluruh potret realitas kita secara apa adanya. Pikiran adalah ruang kemungkinan (space of possibility), dan realitas adalah ruang tindakan yang telah jadi nyata (space of action). Seluruh realitas kita hanya bergerak pada ruang kemungkinan itu. Makin besar ruang kemungkinannya, makin besar ruang realitasnya. Bagaimana kita berpikir, begitulah kita akan bertindak.

Jadi jauh sebelum sebuah realitas tercipta di alam kenyataan, ia terlebih dulu tercipta di alam pikiran kita. Sebaliknya, apa yang tidak pernah kita pikirkan tidak akan pernah jadi realitas di masa mendatang. Maka realitas-realitas kita hari ini sesungguhnya merupakan buah dari benih-benih pikiran yang telah kita tanam bertahun-tahun yang lalu. Dan seterusnya. Realitas-realitas kita di masa mendatang adalah buah dari benih-benih pikiran yang kita taman hari ini.

Konflik dengan penguasa, misalnya. Ini realitas yang mewarnai pola hubungan antara gerakan da'wah dengan penguasa selama ini. Realitas ini berakar pada persepsi gerakan da'wah tentang penguasa sebagai kumpulan para thaghut. Begitu persepsi ini menguasai
pikiran kita, sense of war langsung menyalakan alarm perang ketika kita berhadapan dengan penguasa. Misalnya lagi, fenomena esklusivitas para aktivis di tengah masyarakat. Fenomena ini berakar pada persepsi, bahwa masyarakat kita saat ini hidup dalam kubangan jahiliyah modern. Begitu seseorang berubah menjadi aktivis da'wah, segera saja ia merasakan superioritas spiritual dan moral, dan menemukan tembok pemisah antara dirinya dengan masyarakat.

Ambil contoh lain lagi. Dana. Keterbatasan dana adalah ironi besar yang membatasi ruang gera k da'wah kita. Uang adalah sarana pendukung yang tidak pernah mengisi atau bahkan tak punya tempat dalam ruang pikiran kita selama ini. Kalau toh kita memikirkannya, itu hanya sambil lalu. Pikiran kita selalu terfokus pada bagaimana mensiasati keterbatasan. Bukan pada bagaimana menciptakan kemelimpahan. Karena yang kita pikirkan adalah bagaimana mensiasati keterbatasan, maka selamanya keterbatasan menjadi realitas kita. Kemelimpahan tidak pernah jadi nyata, karena kita memang tidak memikirkannya.

Menggeser Pusat Perhatian

Sekarang sepakatlah kita, bahwa tindakan-tindakan kita muncul sebagai buah dari benih pikiran-pikiran kita. Realitas da'wah juga begitu. Pikiran-pikiran yang berkembang di lingkungan para du'aat lah yang menciptakannya. Jadi pikiran adalah pusat kekuatan yang mengendalikan tindakan-tindakan dan menciptakan realitas-realitas kita. Jika sistem kendali tindakan dan realitas kita ada pada pikiran-pikiran kita, hanya ada satu jalan memperbaiki realitas-realitas kita, yaitu mengubah pikiran-pikiran kita. Sudah saatnya gerakan da'wah memikirkan kembali caranya berpikir, memikirkan kembali apa yang selama kita pikirkan dan mengapa kita memikirkannya serta mengapa kita memikirkannya dengan cara begitu.

Generasi pertama pertama para pemikir da'wah, seperti Al-Banna, Al-Maududi, Sayyid Quthub dan lainnya, memfokuskan perhatian pada pembangunan ideologi. Generasi kedua, seperti Muhammad Al-Gazali, Yusuf Al-Qardhawi, Fathi Yakan, dan lainnya memfokuskan perhatiannya pada pembangunan kerangka pemikiran pergerakan. Ketika gerakan da'wah memasuki era keterbukaan, bermetamorfosis menjadi institusi terbuka, bermain di domain publik, memasuki pusat-pusat kekuasaan, persoalan terbesar kita adalah sumberdaya. Inilah persoalan yang dihadapi gerakan-gerakan da'wah di berbagai negara Islam seperti Sudan, Yaman, Aljazair, Turki, Mesir, Indonesia dan lainnya. Di semua kawasan ini gerakan da'wah mengalami persoalan tersebut secara fundamental: beban kerja yang muncul akibat perluasan wilayah aksi da'wah tidak seimbang dengan sumberdaya yang dimiliki gerakan-gerakan da'wah tersebut.

Animo besar masyarakat terhadap Islam akibat kegagalan pembangunan di akhir dekade 80-an memang pada mulanya menghasilkan kemenangan-kemenangan politik di awal 90-an, seperti FIS di Aljazair atau Refah di Turki. Tapi itu tidak lama. Situasi segera berubah. Tantangan-tantangan yang menghadang kita melampaui sumberdaya yang kita miliki. Dengan menggunakan cermin realitas seperti diatas, persoalan sumberdaya ini muncul karena pusat perhatian pikiran kita belum bergeser dari tema besar generasi pertama dan generasi kedua para pemikir da'wah.

Kita masih bicara ideologi dan belum bicara sumberdaya.

Kita masih bicara sistem pemerintahan Islam dan belum bicara kompetensi kepemimpinan umat.

Kita masih bicara slogan "Islam adalah solusi" dan belum bicara agenda aksi penyelesaian persoalan bangsa.

Kita masih bicara kegagalan musuh, dan belum bicara kesuksesan-kesuksesan kita.

Kita masih bicara ghazwul fikri, dan belum bicara strategi kebudayaan.

Kita masih bicara konspirasi asing, dan belum bicara sistem pertahanan da'wah.

Kita masih bicara fiqhul ikhtilaf, dan belum bicara manajemen organisasi.

Kita masih bicara sabar dalam mensiasati keterbatasan dana, dan belum bicara cara menciptakan kemelimpahan dana.

Kita masih bicara apa yang kita inginkan, dan belum bicara sumberdaya yang diperlukan untuk mencapainya.

Selama pusat perhatian pikiran kita belum bergeser ke masalah penciptaan sumberdaya-sumberdaya, selama itu kita akan mengalami kemunduran dan keterpurukan. Ini hanya konsekuensi ketidakseimbangan antara beban dan daya pikul. Kita akan tampak tua dan lelah, berjalan tertatih-tatih memikul beban obsesi khilafah yang terasa semakin jauh. Para pendiri dan ideolog gerakan da'wah telah meletakkan dasar-dasar ideologi yang kokoh bagi kebangkitan ummat. Mereka merampungkan tugas mereka dengan sempurna. Para pemikir pergerakan --berikutnya-- juga telah membangun kerangka pemikiran pergerakan bagi pertumbuhan gerakan da'wah menuju kematangan. Mereka juga telah menunaikan tugas mereka dengan sempurna.

Kini tiba saatnya bagi generasi ketiga -generasi kita-- untuk membawa bendera, menunaikan tugas sejarah mereka: generasi pencipta sumberdaya. Biarlah di tangan mereka kebenaran menjadi nyata di muka bumi karena menyatu dengan kekuatan.*

This page was loaded Dec 7th 2009, 12:55 pm GMT.